Kelainan refraksi (ametropia) merupakan keadaan bola mata dimana sinar – sinar masuk ke bola mata yang sejajar dengan sumbu utama bola mata, dibiaskan jatuh tidak tepat di retina.  Hal ini dapat diakibatkan baik oleh karena panjang sumbu bola mata yang tidak normal (aksial) atau disebabkan karena sistem pembiasan mata yang tidak normal (refraktif).  Keadaan kelainan refraksi (ametropia) tersebut dapat digolongkan kedalam 2 (dua) kelompok yaitu :

1. SFERIKAL

Kelainan refraksi ini terjadi karena sistem pembiasan bola mata jatuh di depan retina atau di belakang retina.  Ketika pembiasan jatuh di depan retina disebut dengan kelainan refraksi myopia dan ketika pembiasan jatuh di belakang retina disebut hipermetropia/hiperopia.

Untuk menentukan besarnya kelainan refraksi sferikal dengan mudah dapat menggunakan tabel out of focus dari Bennett dan Rabbetts

2. ASTIGMATISME

Berbeda dengan kelainan refraksi sferikal, kelainan pembiasan cahaya masuk ke bola mata yang sejajar sumbu utama bola mata dibiaskan tidak membentuk satu titik fokus tetapi membentuk garis – garis fokus maka disebut sebagai kelainan astigmatisme ( a = tidak, stigma = titik).  Kelainan refraksi astigmatisme ini memiliki sifat yang kompleks karena dapat berupa myopia bila titik – titik fokusnyajatuh di depan retina dan dapat berupa hipermetropia bila titik  – titik fokusnya jatuh di belakang retina atau kombinasi dari keduanya dimana geris – garis fokusnya jatuh di depan dan di belakang retina.

Untuk menentukan besarnya koreksi kelainan refraksi astigmatisme ini, sama dengan myopia atau hipermetropia yaitu dapat menggunakan tabel Bennett dan Rabbetts sebagai acuan

Sumber Pustaka :

  1. James C Tsai, Alistair K.O. Denniston, et.al, Oxford American Handbook of Ophthalmology (2011), New York : Oxford University Press.  
  2. American Academy Of Ophthlamology (2011), Refractive Surgery Section 13 2011 – 2012 , San Fransisco : American Academy Of Ophthalmology.
  3. AK Khurana (2007), Comprehensive Ophthalmology Fourth Edition, New Delhi : New Age International (P) Publishers.
  4. Bikas Bhattatcharyya (2009), Visual Science and Clinical Optometry, New Delhi : Jaypee Brother Medical Publishers.
  5. William J. Benyamin (2006), Borish’s Clinical Refraction Second Edition, St. Louis : Butterworth – Heinemann.